Minggu, 09 Oktober 2011

Pengaruh Buddha-Yunani di Asia Timur

Pengaruh Buddha-Yunani di Asia Timur

Buddha Maitreya dari Wei Utara, 443 Masehi.
Kesenian Tiongkok, Korea dan Jepang mendapatkan pengaruh artistik Buddha-Yunani, tetapi cenderung mereka menambahinya dengan elemen-elemen lokal. Yang masih bisa ditengarai sebagai pengaruh seni Buddha-Yunai secara langsung adalah:
  • Realisme idealistik umum figur-figur yang merupakan peninggalan seni Yunani.
  • Elemen pakaian dengan gaya lipatan-lipatan Yunani yang sangat elaboratif.
  • Rambut keriting yang merupakan khas Laut Tengah.
  • Di beberapa pelukisan Buddha, ada tokoh-tokoh bersayap yang terbang dan memegang rangkaian bunga.
  • Elemen-elemen pemahatan Yunani seperti daun anggur dan lung-lungan dedaunan.

[sunting] China

Tritunggal Buddha, Wei sebelah timur (534-550), China.
Unsur-unsur artistik Buddha-Yunani bisa dirunut semua karya seni Buddha-Tiongkok dengan beberapa variasi lokal dan waktu, tergantung pada karakter beberapa dinasti yang telah memeluk agama Buddha.
Beberapa patung Dinasti Wei Utara bisa dikatakan merupakan reminisensi patung-patung Buddha berdiri dari Gandhara meski gayanya lebih simbolis. Namun karakternya secara umum dan pelukisan pakaian masih sama. Patung-patung lain, misalkan dari Dinasti Qi Utara, juga melestarikan gaya Buddha-Yunani secara umum, tetapi sifat realisme kurang dan memiliki unsur-unsur simbolis yang lebih kuat.
Beberapa patung Wei Timur (kiri) menunjukkan gambar Buddha dengan lipatan-lipatan jubah gaya Yunani yang megah dan dikelilingi tokoh-tokoh terbang yang membawa rangkaian bunga.

[sunting] Jepang

Di Jepang, kesenian Buddha mulai berkembang setelah negara ini memeluk agama Buddha pada tahun 548. Beberapa ubin dari periode Asuka, periode pertama setelah rakyat Jepang mulai memeluk agama Buddha, menunjukkan gaya klasik yang menonjol, dengan penggunaan pakaian gaya Helenistik secara meluas dan pelukisan anatomi tubuh secara realistik, yang merupakan ciri khas gaya seni Buddha-Yunani.
Karya seni lainnya menggunakan beberapa variasi pengaruh China dan Korea, sehingga seorang pemeluk Buddha Jepang sangat bervariasi dalam berekspresi. Banyak unsur seni Buddha-Yunani masih lestari sampai sekarang, seperti Herakles yang merupakan di belakang para penjaga Nio di depan banyak kuil-kuil Buddha Jepang, atau representasi sang Buddha yang masih memperlihatkan gaya seni Yunani seperti patung Buddha di Kamakura.
Kiri: Dewa Angin Yunani dari Hadda, abad ke-2. Kanan: Dewa Angin Jepang Fujin, abad ke-17.
Beberapa pengaruh Buddha-Yunani lainnya bisa ditemukan di khazanah perdewaan Jepang. Salah satu contoh yang paling menonjol adalah Dewa Angin Jepang Fujin. Masih konsisten dengan ikonografi Yunani untuk Dewa Angin Boreas, Dewa Angin Jepang di atas kepalanya memegang sebuah kain besar atau "kipas angin" dengan gaya penampilan yang sama. Rambut dan bulu muka yang lebat juga masih dipertahankan di pelukisan gaya Jepang, seperti juga rautan muka yang dilebih-lebihkan.
Evolusi ikonografis dari Dewa Yunani Herakles sampai Dewa Jepang Shukongōshin. From left to right:
1) Herakles (Museum Louvre, Paris).
2) Herakles pada sebuah koin Baktria-Yunani raja Demetrius I.
3-4) Bajrapani, pelindung Buddha, dilukis mirip Herakles dalam kesenian Buddha-Yunani dari Gandhara.
5) Shukongōshin, manisfestasi Bajrapani, sebagai Dewa pelindung di kuil-kuil Buddha Jepang.
Dewa Buddha lainnya, bernama Shukongoshin, salah satu Dewa pelindung kuil Buddha di Jepang yang penuh murka, juga merupakan kasus menarik transmisi citra Dewa ternama Yunani, Herakles ke daerah Timur Jauh sepanjang Jalur Sutra. Herakles juga dipakai dalam Seni Buddha-Yunani untuk melukiskan Bajrapani, sang pelindung Buddha, dan gambarannya kemudian dipakai di China dan Jepang untuk menggambarkan Dewa-Dewa pelindung kuil-kuil Buddha.
Ubin kuil dari Nara, abad ke-7.
Daun anggur dan anggur sebagai lingkaran penghias pilar dari Nara, abad ke-7.
Akhirnya, inspirasi artistik ukiran gaya lung-lungan dedaunan Yunani, bisa ditemukan secara harafiah pada genteng-genteng atap Jepang, salah satu elemen yang lestari pada arsitektur kayu selama berabad-abad. Salah satu contoh yang terang berasal dari ubin-ubin kuil Nara, di mana beberapa di antaranya menunjukkan gambar anggur dan daun anggur. Corak-corak ini lalu berkembang menjadi lukisan yang lebih simbolis, namun sampai sekarang masih lestari dipergunakan di banyak gedung-gedung tradisional Jepang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar