Minggu, 09 Oktober 2011

Gambar Sebagai Wilayah Otonom dalam Seni Rupa Kontemporer

Gambar Sebagai Wilayah Otonom dalam Seni Rupa Kontemporer
Setelah di akhir tahun 60-an sampai tahun 80-an gambar dianggap kurang penting dalam ruang lingkup pendidikan seni rupa, maka tahun 90-an ditandai dengan kegelisahan karena makin berkurangnya kemampuan menggambar para mahasiswa seni rupa. Ada upaya-upaya untuk “back to basic”, yaitu mengembalikan gambar sebagai variabel penting dalam seni rupa—termasuk dalam pendidikan tinggi seni rupa. Hal itu misalnya ditunjukkan oleh sebuah konferensi yang diadakan oleh Tate Gallery tahun 1993-1994 mengenai The role of drawing in Fine Art Education. Hal itu kemudian ditandai pula oleh dibukanya program studi gambar di beberapa perguruan tinggi seni rupa di Barat.
Di masa sebelumnya, kita tahu bahwa seni lukis modern yang puncaknya ditunjukkan oleh abstrak ekspresionisme mengalami kebuntuan. Perkembangan lebih lanjut yang ditunjukkan oleh Pop Art, Conceptual Art dan Minimal Art merupakan masa transisi dari seni rupa modern menunju seni rupa kontemporer. Penentangan pada konteks spiritual kesenimanan dan sublimasi seni lukis menyebabkan seni lukis pada awal tahun 70-an mendapatkan stigma, dan untuk beberapa saat mengalami titik nadir. Performance, happening, eart art, dan bentuk-bentuk seni patung dalam sense sculpture in extended field menjadi utama. Hal itu kemudian disusul oleh new media art. Namun secara perlahan tapi pasti seni lukis kembali menunjukkan kebangkitannya. Berbeda dengan masa seni lukis modern, seni lukis kontemporer bangkit dengan menempatkan dirinya sebagai kemungkinan medium representasional—bukan sebagai entitas esensial dan sublim seni rupa.
Pluralitas seni rupa kontemporer menunjukkan dirinya dengan menerima setiap kemungkinan seni, baik dari segi pemikiran (teori), konsep, medium, material dan ruang kehadiran serta asal usul seniman. Terbukti bahwa seni rupa kontemporer semakin menunjukkan wajah globalnya. Tentu saja tak bisa dipungkiri tetap hadirnya kekuatan-kekuatan penentu di balik praktek produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer. Sebagai contoh, tak bisa disangkal bahwa kebangkitan seni lukis tidak lepas dari maraknya pasar seni rupa, dan itu ditandai oleh maraknya art-fair di pusat-pusat ekonomi dunia, termasuk pusat-pusat ekonomi baru.
Yang menarik, bangkitnya gambar atau lebih tepat seni gambar dalam dekade terahir ini ditengarai tidak lepas dari come-backnya seni lukis. Seni lukis melihat peluang bahwa seni rupa kontemporer dengan kepercayaan pada pluralisme dan “apapun boleh” (anything goes) tidak memiliki alasan untuk menolak eksistensi seni lukis. Agaknya, melihat hal itu, para seniman yang tertarik dengan gambar sebagai kemungkinan medium seni rupa kontemporer mulai menampilkan dirinya. Karena itu Emma Dexter, editor Vitamin D (buku kompilasi seniman gambar yang paling komprehensif saat ini) berpendapat bahwa popularitas seni gambar sedikit banyak disebabkan oleh kembali populernya seni lukis: “In painting’s slipstream followed the shy sibling, gambar, arriving without any apologies or explanation. Gambar had never been widely theorized in its own right, allowing the field to be open for the artists to make of it what they choice.”
Selain itu, popularitas seni gambar ditengarai dodorong oleh arus balik pada hal-hal yang lebih moderat dan sederhana, setelah praktek seni rupa tahun 70an sampai 90-an disibukkan oleh aspek monumental seni. Hal itu diutarakan oleh Emma Dexter: “But when drawing first started to emerge autonomously in the mid-1990s, it was also the perfect medium to contrast with the sort of art that preceded it. Circa 1990, contemporary exhibition were dominated by a form of monumentalism, one that ironically trumpeted its decosntruction of the monument yet aped the monument’s hunger for the space, power and theatricality.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar