Senin, 10 Oktober 2011

membuat Anyaman Bambu, Rotan dan Daun Lontar, Hasil Karya Seni I Gusti Putu Geria

Menjadi ahli dalam satu bidang tertentu sudah barang tentu sangatlah menyenangkan. Sebab, dengan keahlian tersebut, selain kita dapat memuaskan diri sendiri, kita juga dapat memuaskan orang lain yang menyukai bidang tersebut. Apalagi jika keahlian yang dimiliki itu selalu ditularkan kepada orang lain di sekitar kita.
2008082929
Ilmu dan keahlian yang selalu ditularkan kepada orang lain itu bisa membuat seseorang diakui, dikenal dan dihargai masyarakat, tidak hanya masyarakat di negeri sendiri tetapi juga masyarakat di seantero dunia. Sikap itulah yang senantiasa akan membuat seseorang selalu dikenang masyarakat karena jasa baik yang telah ditorehkan semasa hidupnya.
Rupanya filosofi inilah yang dipegang teguh oleh I Gusti Putu Geria, seorang ahli dalam pembuatan barang kerajinan anyaman dari bambu, rotan dan daun lontar yang sudah berpuluh-puluh tahun menggeluti dunia kerajinan anyaman dari bahan-bahan alam tersebut.
Keahlian dalam membuat barang kerajianan anyaman diperoleh I Gusti Putu Geria secara autodidak dari para perajin pendahulunya yang ada di sekitar tempat tinggalnya dengan cara belajar sambil bekerja. Gusti Geria, demikian panggilan akrab pakar kerajinan anyaman asal Pulau Dewata yang satu ini, sudah belajar menganyam bambu dan rotan sejak usia kanak-kanak ketika jaman penjajahan Jepang.
Berkat keseriusan, ketekunan dan kerja keras dalam mempelajari pembuatan barang kerajinan anyaman, Gusti Geria setahap demi setahap mampu menguasai teknik pembuatan barang kerajinan anyaman secara nyaris sempurna. Dengan modal keseriusan, ketekunan dan kerja keras serta ditambah dengan kemampuan berinovasi dalam mencipatkan kreasi-kreasi baru, Gusti Geria pun berhasil mengembangkan berbagai desain produk anyaman bambu, rotan dan daun lontar yang sangat indah dan kreatif. Kini sudah lebih dari ratusan desain barang kerajinan anyaman yang telah diciptakan Gusti Geria. Namun tidak satu pun dari ratusan desain produk kerajinananyaman itu yang dipatenkan Gusti Geria.
Tampaknya Gusti Geria sengaja untuk tidak mempatenkan berbagai desain barang kerajinan anyamannya walaupun dirinya mengetahui persis konsekuensi dari tidak adanya perlin-dungan paten untuk produk ciptaanya itu. Sebab, desain-desain barang kerajinan anyaman yang baik dan berkualitas dapat dengan cepat ditiru para perajin lainnya. Apalagi di Pulau Bali banyak sekali perajin yang memiliki keahlian tinggi dalam anyam menganyam sehingga sudah bukan rahasia lagi kalau praktek jiplak menjiplak itu mudah sekali terjadi walaupun hanya dengan cara melihat barang aslinya sekali saja.
20080829111
Rupanya Gusti Geria tidak terlalu mempedulikan praktek jiplak menjiplak desain barang kerajinan anyaman itu. Dia cenderung tidak mau ambil pusing dengan apa yang dilakukan perajin lain, yang terpenting bagi dirinya terus berkarya menghasilkan desain-desain produk kerajinan anyaman yang lebih baik, lebih menarik dan berkualitas tinggi. Gusti Geria pun membiarkan desain-desain barang kerajinan anyamannya menjadi milik masyarakat perajin anyaman di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
Tidak hanya berhenti sampai di sana, Gusti Geria pun selalu aktif dalam menularkan ilmu dan keahliannya dalam bidang kerajinan anyaman. Keahliannya yang luar biasa dan pengalamannya yang luas dalam bidang kerajinan anyaman bambu dan rotan telah membawanya berkeliling seluruh Indonesia untuk menularkan ilmunya itu.
Gusti Geria sering kali diminta instansi pemerintah dan institusi/lembaga partikelir tertentu untuk memberikan pelatihan dan pendidikan (diklat) mengenai kerajinan anyaman di berbagai daerah di tanah air termasuk di provinsi Timor Timur ketika masih bergabung dengan Negara Kesatuan RI.. Sampai saat ini permintaan untuk memberikan pelatihan dan pendidikan di bidang industri kerajinan anyaman itu masih terus mengalir. Namun mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi, Gusti Geria pun seringkali tidak dapat memenuhi permintaan tersebut. Karena itu, anak tertuanya bernama Darma Putra yang sejak kecil menggeluti industri kerajinan anyaman, sering kali mewakili Gusti Geria memberikan pelatihan tersebut.
Kini di usianya yang ke-76, Gusti Geria menghabiskan masa tuanya dengan menekuni kegiatan pembuatan berbagai barang kerajinan anyaman. Kesembilan anak (enam laki-laki dan tiga perempuan) serta 15 cucunya kini turut menekuni industri kerajinan anyaman bambu, rotan dan daun lontar. Ilmu dan seni menganyam bambu, rotan dan daun lontarnya ditularkan Gusti Geria kepada anak-anak dan cucunya serta kepada siapa saja yang berminat menekuni seni kerajinan anyaman tersebut.
20080829210
Dengan keahlian di bidang kerajinan anyaman, Gusti Geria mampu membuat berbagai bentuk dan desain kerajinan anyaman yang indah dan menarik, seperti nampan, tempat buah, keranjang parsel, laundry basket, tissue box, asesories basket, pot untuk rangkaian bunga, sangkar burung dan kap lampu. Dengan dibantu anak cucunya itu, Gusti Geria kini mampu memproduksi rata-rata 800 pieces (200 set per desain) barang kerajinan anyaman setiap bulannya.
Produk kerajinan anyaman bambu, rotan dan daun lontar buatan Gusti Geria termasuk memiliki keunikan yang khas karena desain kerajinan anyaman hasil karya Gusti Geria sangat berbeda dengan kerajinan anyaman buatan perajin lainnya yang ada di Bali maupun di daerah lainnya di tanah air. Penggunaan warna cokelat gelap (dark mahagony) yang memberikan kesan natural, antik dan anggun menambah kecantikan dan keindahan berbagai produk kerajinan anyaman itu.
Tidak mengherankan apabila kalangan pembeli dari mancanegara selalu berminat untuk membeli produk-produk kerajinan anyaman bambu, rotan dan daun lontar yang dibuat Gusti Geria. Bahkan kalangan pembeli dari Jepang yang selama ini terkenal dengan persyaratan standard mutunya yang sangat ketat dan tinggi secara rutin membeli berbagai produk kerajinan anyaman bambu, rotan dan daun lontar hasil kreasi Gusti Geria.
Walaupun sebagian besar produk kerajinan anyaman Gusti Geria ditujukan untuk memenuhi pesanan pembeli dari Jepang, sebagian produk kerajinan anyaman itu ada juga yang diekspor ke Amerika Serikat dan Australia serta sebagian lainnya dijual di pasar dalam negeri. Khusus untuk kegiatan ekspor ke Jepang, pihak pembeli dari Jepang mengirimkan perwakilannya ke Bali untuk mengumpulkan barang kerajinan anyaman itu di Bali dan mengurus semua pengepakan dan kargo untuk selanjutnya dikirim ke Jepang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar