Minggu, 02 Oktober 2011

Cara Membuat Lukisan Batik Dengan Media Kanvas

Cara Membuat Lukisan Batik Dengan Media Kanvas

                      Kelihatannya susah ya, membatik dengan kain kanvas. Gimana jadinya ?
Pertanyaan macam itupun muncul dipikiranku sewaktu pertama kali mencoba membuat lukisan batik diatas kain kanvas yang tebalnya lumayan juga, tapi itu adalah keinginanku saat pertama mencoba belajar membatik Aku ingin sesuatu yang berbeda , sering terpikir pada saat melihat lukisan apapun diatas kanvas. Ternyata gak salah coba yang satu ini. Eh kebetulan ada temen dari Jogja yang memang guru membatik, wah pas bener, pas aku butuh pas dia ada. Lalu aku nitip  untuk dicarikan kain seperti yang aku maksud . Dan ketemu juga akhirnya, kain kanvas yang tebal dan licin . Gimana tuh caranya supaya malam yang di canting dapat menempel ke kain kanvas . Setelah dicoba terus menerus trial error lah dan habis sampai bermeter - meter kain yang akhirnya gak kepakai tapi tetep aja jalan terus, ternyata ketemu formulanya , Mau mencoba juga ? Boleh kok , itung - itung bagi  pengalaman dan kita dapat berkresi  ya khan. Ok, kita mulai siapin alat - alatnya , seperti kalau kita membatik pasti gak asing kan , :
                             1. kompor kecil dan wajannya
                             2. Malam untuk membatik
                             3. kuas untuk melukis
                             4. Pewarna batik
                            
 Udah ada bahannya terus gimana ya ?...... Kita coba yang ini :
1. Canting setiap detail gambar designnya ( hati - hati untuk bahan dari kain kanvas ,malam harus cukup panas sehingga dapat meresap ke kain tapi jangan sampai terlalu panas karena malam akan meleleh ke arah lain hingga hasilnya kurang bagus. )
2  Selesai mencanting kita dapat mulai mewarnai dengan menggunakan kuas secara perlahan - lahan jangan sampai tembus di luar garis canting.
3 Setelah selesai kita diamkan semalam dan besoknya dapat kita beri penguat atau pengunci istilahnya yaitu berupa cairan............................. agar warna yang menempel tidak akan pudar
4. Kita dapat menjemur kain tersebut di panas sinar matahari hingga kering, perlu diingat bahwa sinar matahari yang menyengat jangan dirahkan langsung pada hasil lukisan kita karena malam yang sudah kita canting akan meleleh dan menyebar ke arah lain, hasilnya kurang bagus.
5. Beberapa jam kemudian kita dapat merasakan bahwa kain sudah kering maka langkah yang terakhir adalah dengan merebus kain menggunakan soda abu lalu kita lihat sekiranya sudah tidak ada malam yang menempel di kain,  maka kita bisa cuci dengan menggunakan rinso lalu dijemur kembali hingga kering.
6. Selesai lah kerja kita dan....................kita dapat melihat hasilnya, karya kita sendiri dan dapat kita nikmati, mungkin bisa untuk souvenir teman atau kerabat kita atau kado ulang tahun .
                      Gimana.... mau coba ? Mesti harus dicoba.

Batik Lukis, Ciptakan Kecintaan akan Budaya kembali

Batik Lukis, Ciptakan Kecintaan akan Budaya kembali


Semakin malam, para mahasiswa berbondong datang ke balik taman alumni. Deretan stan memadati dari ujung satu hingga ujung lain taman alumni. Teriring suara gamelan dan alat-alat kesenian tradisional lainnya. Sayup-sayup sesekali terdengan suara sinden membawakan lagu-lagu daerah.
Nampak di antara deretan stan, dua stan yang unik dan cukup ramai pengunjung. Sebut saja stan Batik Lukis dan Batik Cap. Saya tertarik untuk melihat kumpulan orang menghadap ke seorang bapak di sudut stan Batik Lukis. Dengan ramah beliau menerangkan bagaimana cara membuat batik lukis. Cukup hanya dengan bermodalkan alat lukis, cat minyak dan kertas yang cukup tebal untuk melukis, Batik Lukis sederhana dapat dibuat. Terlihat para pengunjung bersemangat menggoreskan tintanya. Cukup telaten dan sabar si Bapak membimbing. Untuk awalan, si Bapak lah yang membuat sketsa di kertas. Para pengunjung hanya tinggal melukis dan menorehkan kreatifitas mereka. Goresan tinta merah, biru, kuning, dan hitam. Sesekali mereka mengangguk-anggukkan kepala senang melihat karyanya yang hampir jadi. Satu, Dua, karya tokoh pewayangan pun terbentuk. Mulai dari puntodewo, janoko, dan lain sebagainya. Meskipun harus menunggu kering untuk dipasang, pengunjung pun puas mendapat pelatihan singkat dari si Bapak ini.
Jeda beberapa stan, ada satu Stan yang tak kalah padat diminati. Stan Batik Cap namanya. Lain halnya dengan di Stan Batik Lukis. Kali ini, pengunjung diminta melukis dengan kreativitasnya masing-masing. Tanpa sketsa awal tentunya. Dengan menggenggam canting (alat untuk melukis) di tangan kanan dan kain putih di tangan kiri. Saya melihat partner saya yang asyik menggerakan canting ke atas dan bawah kain. Sesekali tangannya mengambil cairan malam yang panas sebagai bahan untuk digoreskan ke kain. Untuk kali ini, dibutuhkan kehati-hatian. “Butuh kesabaran ya membuat seperti ini,” celetuk Novi, salah satu pengurus BEM ITS. Apabila tangan menyeduh malam cair terlalu banyak ke dalam canting, otomatis ketika digoreskan ke kain akan menghasilkan goresan yang terlalu tebal. “Posisi canting dibuat agak miring ketika menggoreskan ke atas kain sehingga dihasilkan goresan motif batik yang sempurna,” kata Irma, salah satu pengunjung, mengajarkan.
Dengan adanya pelatihan ini, saya yakin sedikit banyak orang-orang akan sadar betapa uniknya seni batik. Batik sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa yang ironinya mulai mengalami kelunturan. Dengan belajar membuat langsung akan menjadi bentuk apresiasi yang luar biasa karena pengunjung akan secara langsung merasakan susah dan asyiknya membuat batik sendiri. Sehingga, secara tidak langsung akan menumbuhkan kecintaan kita akan batik itu sendiri.

cara membuat batik

Istilah Batik berasal dari kosa kata bahasa Jawa yaitu Amba dan Titik. Amba artinya kain dan titik adalah cara memberi motif pada kain dengan menggunakan malam cair dengan cara di titik-titik. Cara kerja membatik pada dasarnya adalah menutup permukaan kain dengan malam cair (wax) agar ketika kain dicelup kedalam cairan pewarna, kain yang tertutup malam tersebut tidak ikut kena warna. Teknik seperti ini dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Wax-Resist Dyeing. Jika proses membuat motif batik dilakukan dengan cara “ditulis” dengan menggunakan alat yang disebut canting, maka batik tersebut dinamakan batik tulis. Ada juga jenis batik yang pembuatan motifnya menggunakan alat cetak khusus yang terbuat dari logam dengan motif-motif tertentu. Batik yang dibuat dengan cara mirip stempel / cap seperti ini disebut sebagai batik cap atau batik stempel.
Seiring dengan perkembangan jaman, dewasa ini ada juga batik yang dibuat dengan cara dicetak sablon dan dengan cetak masal menggunakan mesin cetak otomatis yang modern. Batik yang dihasilkan dengan cara seperti ini disebut sebagai batik printing.
Jadi, berdasarkan teknik pembuatannya batik dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a. Batik tulis
b. Batik cap / cetak
c. Batik Printing
Diluar teknik yang telah disebutkan diatas, ada juga teknik pembuatan batik dengan cara mengecatkan langsung pewarna pada kain dengan menggunakan kuas untuk membuat motif atau citra-citra tertentu, bahkan belakangan ini ada juga beberapa orang yang mencoba memperkenalkan cara membuat batik dengan cara menyemprotkan langsung tinta ke kain dengan menggunakan alat yang disebut Air Brush. Biasanya motif yang dihasilkan adalah motif-motif Pop dan kontemporer. Salah satu tokoh batik kontemporer Indonesia adalah Amri Yahya. Beliau memperkenalkan batik kontemporer itu sebagai karya seni lukis dengan warna-warna cerah dan dinamis yang muncul dari efek-efek sapuan dan cipratan kuas yang spontan.
Untuk batik tradisional, ada beberapa bahan yang biasa dipergunakan, yaitu:
a. Kain. Kain yang digunakan untuk batik tradisional adalah yang memiliki bahan dasar dari kapas (kain katun, kain mori), dan kain sutra.
b. Malam (Wax). Yang dimaksud dengan malam adalah sejenis parafin/lilin yang tidak mengandung zat pembakar. Ada beberapa macam malam yang biasa digunakan untuk membuat batik ini yaitu: malam kuning, malam coklat, dan malam putih.
- Malam kuning memiliki sifat yang lebih liat/kenyal yang cocok untuk memunculkan efek gambar yang menutup kain secara utuh/sempurna.
- Malam coklat memiliki sifat yang mudah retak, sehingga akan memunculkan efek urat-urat pada hasil lukisan batiknya.
- Malam putih atau parafin bersifat sangat rapuh dan akan memunculkan efek retak-retak pada gambar batiknya.
c. Pewarna. Pewarna batik bisa dihasilkan dari bahan alami yang berasal dari tanaman bisa juga dari bahan kimia. Bahan pewarna alami yang pernah digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah daun jambu, daun mangga, dan lain-lain dimana warna tersebut akan semakin kuat/tua jika ditambahkan ke dalamnya larutan tawas. Salah satu pewarna yang pernah populer digunakan adalah pewarna yang berasal dari air rebusan kulit pohon mahoni. Di Jawa tengah kita mengenal adanya batik sogan yang populer di kalangan keraton Yogyakarta dan Solo. Batik ini menggunakan pewarnanya dari rebusan kulit pohon Soga Tingi.
Pewarna kimia yang sudah umum digunakan oleh para pengrajin batik adalah berbagai jenis Napthol dan garam Diazo. Naptol ini merupakan pewarna dasar dan garam Diazo sebagai pembangkit warnanya. Ada beberapa jenis napthol yang bisa kita pilih yaitu; AS, ASD, ASG, ASBS, ASGR, dan ASLB. Sedangkan jenis garam diazo yang bisa kita gunakan sebagai pembangkit warnanya adalah; Biru B, Merah B, Merah R, Oranye G.C, dan Violet B.
Berikut adalah contoh warna yang dihasilkan dari pencampuran napthol dengan garam diazo tersebut:
Napthol
Garam Diazo
Biru B
Merah B
Merah R
Oranye G.C
Violet B
AS
ASD
ASG
ASBS
ASGR
ASLB
biru tua
biru
krem
biru
hijau
coklat tua
merah tua
merah tua
kuning
merah muda
abu-abu
merah bata
merah
merah
kuning muda
merah
abu2-merah
merah bata
oranye
oranye
kuning muda
oranye
abu2 kotor
coklat muda
ungu
lavender
kuning muda
pink
abu-abu
coklat ungu
Kita dapat melakukan beberapa percobaan dengan mencampur naptol dan garam diazo ini untuk mengahasilkan warna warna tertentu, misalnya dengan mencampurkan salah satu jenis naptol dengan salah satu jenis garam diazo.
d. Canting atau Cap. Canting adalah alat yang digunakan untuk membuat motif / gambar pada kain yang memiliki beberapa nama sesuai dengan fungsinya, yaitu:
- Canting Cecek, yang memiliki lubang kecil biasa digunakan untuk membuat motif gambar yang detil.
- Canting Klowong, adalah canting yang memliki lubang berukuran sedang dan biasa digunakan untuk membuat garis utama pada motif, dan
- Canting Tembok, yaitu canting yang memiliki ukuran lubang besar yang biasa digunakan untuk menutup bidang motif yang agak luas.
Langkah-langkah pembuatan batik.
a. Siapkan kain yang sudah dicuci bersih dan disetrika lebih dahulu, agar proses pewarnaannya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
b. Dalam sebuah wadah mangkok plastik, buatlah larutan Napthol dan garam Diazol, dengan perbandingan 1 sendok makan napthol dicampur 2-3 sendok TRO (Turkish Red Oil), aduk hingga rata dan mengental. Setelah itu tuangkan sedikit air mendidih dan aduk hingga tercampur rata lalu masukkan 1 sendok teh soda api sampai ada reaksi larutan menjadi jernih. Larutan yang sudah jernih tersebut tuangkan ke dalam ember plastik berukuran sedang (ukuran 20 liter) yang sudah berisi air 1/3 nya, lalu aduk hingga rata.
Buatlah larutan garam dengan cara mencampurkan 1 sendok makan garam diazo ke dalam 200 ml air, aduk sampai larut lalu masukkan ke dalam ember yang berukuran seperti di atas yang sudah berisi air 1/3 bagian nya. Air sebanyak ini cukup untuk mencelup kain sepanjang 4 meter.
c. Buatlah sketsa motif batik pada kain tersebut dengan menggunakan pensil yang memiliki tingkat kekerasan sedang, misalnya pensil jenis B. Jika akan membuat motif yang sama pada kain yang lain, sebaiknya kita membuat gambar motif tersebut pada selembar kertas agar dapat dijadikan sebagai acuan untuk menjiplaknya berulang-ulang.
d. Panaskan malam dalam wadah yang berbentuk seperti wajan kecil (kenceng) diatas api kompor kecil, dan setelah malam itu cair tutup motif batik yang telah dibuat tadi dengan malam cair ini dengan menggunakan canting. Gunakan canting yang memiliki ukuran lubang yang sesuai dengan ukuran garis motif tadi.
e. Setelah selesai menutup motif pertama, celup kain tersebut ke dalam pewarna kain yang paling cerah / warna paling muda hingga rata, selanjutnya keringkan dengan cara direntangkan ditempat terbuka tapi tidak terkena sinar matahari langsung untuk menghindari pemudaran warna celupan.
f. Lanjutkan proses pembuatan motif kedua seperti pada langkah c, lalu lanjutkan dengan langkah d dengan catatan: warna celupan ke dua harus lebih gelap dari warna pertama.
g. Setelah proses pencelupan dan pengeringan dianggap selesai, maka proses selanjutnya adalah melakukan pelorodan. Pelorodan adalah proses untuk menghilangkan malam yang menempel di kain tersebut dengan cara mencelupkannya dalam air mendidih yang sudah dicampur soda abu. Usahakan agar kain dicelup berulang kali hingga malam nya benar-benar hilang.
Untuk membuat larutan pelorodan ini adalah dengan cara mencampurkan 2-3 sendok soda abu ke dalam 4-5 liter air mendidih.

Membatik Lukis

Membatik Lukis


Membatik lukis adalah melukis menggunakan lilin batik secara spontan. Pembuatan lukisan ini dapat secara langsung atau tanpa pola maupun dengan dibuat pola/kerangka terlebih dahulu bergantung bagaimana kemampuan dari pelukis tersebut. Pelukis batik belum tentu dapat membatik layaknya membuat sebuah batik tulis karena cara membatik lukis sukar ditunjukan dengan pedoman-pedoman seperti batik tulis tangan maupun cap.
Sebelum mebuat batik lukis ada beberapa hal yang dendaknya patut diperhatikan yakni :
  1. Melatih cara-cara melukis, dengan melatih tangan dan mempertinggi daya cipta. Untuk membuat suatu gambar yang indah maka diperlukan kelenturan tangan dalam menggoreskan lilin batik dan tentunya semua juga tidak lepas dari bagaimana kreatifitas pelukis.
  2. Mempelajari hubungan pemanasan dan sifat-sifat lilin batik. Terkadang lilin batik yang digunakan justru tidak memberikan nilai indah karena mudah rusak saat penggunaan misalnya warna yang kurang jelas, terjadi remukan dan lain sebagainya. Hal ini bergantung pada bagaimana proses pemanasan yang dilakukan sebelumnya.
  3. Mempelajari efek pewarnaan pada berbagai goresan lilin batik. Warna merupakan hal yang sangat vitasl dalam pembuatan karya batik. Dengan komposisi warna yang tepat tentunya akan mudah untuk mendapatkan nilai keindahan.
  4. mempelajari bentuk-bentuk isen batik dan cara-cara penempatannya. Hal ini peting karena bentuk isen batik terkadang memberikan penilaian tersendiri sehingga dengan penempatan yang tepat maka orang akan menajadi lebih mudah untuk mengatakan indah pada karya seni yang kita buat.
  5. Melatih cara-cara mempergunakan alat-alat untuk membatik lukis. Dengan mengetahui bagaimana karakteristik dan fungsi alat secara tepat akan mebantu dalam pengejaan batik lukis.
Terkadang untuk lebih menyempurnakan seuah batik lukis dilakukan juga proses membatik tulis maupun cap bergantung dari kebutuhan. Hasil dari batik lukis biasanya dipergunakan untuk keperluan-keperluan dekorasi sehingga pekerjaan membatik lukis tidak perlu dikerjakan pada kedua belah muka kain, malinkan hanya sebela

Seni Lukis Dari Pelepah Pisang Kini Dicari Orang

Seni Lukis Dari Pelepah Pisang Kini Dicari Orang


Karya  luar biasa, harga biasa 
[Foto: Novriyadi]Karya luar biasa, harga biasa [Foto: Novriyadi]Melukis dengan cat minyak di atas media kanvas mungkin sudah dianggap biasa dan banyak pesaing. Tapi bagaimana melukis dengan menggunakan pelepah pisang, ya…pelepah pisang kok bisa ya? Itulah yang dilakukan oleh dua bersaudara Budi Setiawan dan Henri, mereka melukis dengan pelepah pisang di atas media triplek.
Menyulap sampah pohon pisang menjadi barang bernilai seni yang tinggi, tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh keuletan, tidak bermalas-malasan dan kreativitas. “Lebih dari dua tahun saya belajar membuat lukisan dari pelepah pisang ini,”ungkap Budi.
Menurut Budi, yang sulit dari melukis dengan pelepah pisang ini adalah, menentukan konfigurasi warna antara daun pisang dengan warna lukisan. Mungkin Anda akan bertanya-tanya bagaimana cara Budi menghasilkan lukisan dengan pelepepah pisang? Begini, caranya pertama pelepah pisang yang sudah kering dipohon siap untuk dipanen. Kemudian, pelepah pisang kering itu dicuci dan direndam dengan kamper yang dicairkan dengan minyak tanah selama 1-2 jam.
citra seni yang tinggi [Foto: Novriyadi]citra seni yang tinggi [Foto: Novriyadi]Setelah ditiriskan, pelepah pisang dipotong-potong dan siap untuk diaplikasikan di atas triplek yang telah dibuat pola dan dibubuhi dengan lem. Lukisan yang sudah jadi tersebut tinggal diberi pigura. "Kamper dan minyak tanah fungsinya untuk mengawetkan pelepah pisang dan membuang kuman yang melekat," kata Budi.
Budi menjelaskan harga lukisan yang ia jual bervariatif mulai dari Rp.100.000 hingga Rp. 4 juta, dalam sebulannya Budi bisa mengantongi Rp 5 juta,”Lumayanlah, untuk ngasih makan anak dan istri,” candanya.
dasarnya dari triplek [Foto: Novriyadi]dasarnya dari triplek [Foto: Novriyadi]Budi Setiawan dan Heri adalah di antara beberapa pelukis yang menggunakan media pelepah pisang. Semua karya seninya diusung dalam satu bendera yang diberi nama Heri’s Gebog Art. Kendati kedua kakak beradik itu tinggal terpisah Budi di Bogor dan Heri di Karawang, usaha itu masih tetap berjalan. Heri berkarya dikediamannya dengan mengerjakan berbagai pesanan. Sedangkan Budi memilih menyewa stand yang berlokasi di JACC (Jakarta City Centre) Tanah Abang dan galeri seni di gedung Sentra UKM Tanah Abang.
Heri's Gebog Art sendiri pada awalnya dirintis pada tahun 1987 oleh Heri yang telah berprofesi sebagai seniman lukis. Pertama kali ia masih membuat lukisan dengan cat minyak. Karena merasa melukis dengan media kanvas sudah dianggap biasa dan banyak pesaing, Budi lantas mencoba mencari media alternatif. Maka akhirnya ia menemukan bahan yang dirasa paling sesuai untuk karyanya yakni pelepah pisang. “Sebelumnya saya sudah pernah coba dari bahan lain seperti rumput, kulit bawang, dan sebagainya. Tapi akhirnya saya menemukan pelepah pisang yang bisa menghasilkan lebih banyak warna,” ujar Budi.

cara membuat lukisan dari pelepah pisang

cara membuat lukisan dari pelepah pisang

Sebagain besar orang menganggap pelepah pisang (kering) adalah sampah yang tidak berguna. Begitu pula saat penulis masih kecil, di kampung halaman seringkali hanya melihat pelepah pisang yang sudah kering (layu) teronggok di kebun. Bahkan terkadang oleh orang tua dibakar karena dianggap mengotori kebun. Namun kini pelepah pisang bisa dijadikan karya seni lukisan yang indah dan bernilai ekonomi tinggi. Lagi-lagi tangan-tangan orang kreatif yang menjadikan limbah seperti itu sebagai sebuah berkah.
Disarikan dari berbagai sumber, penulis mencoba menghadirkan kisah sukses orang-orang yang menekuni usaha lukisan dari limbah pelepah pisang dan cara pembuatannya. Semoga bermanfaat dalam menumbuhkan kreativitas pembaca dan memberikan sentuhan motivasi untuk selalu peduli terhadap lingkungan hidup.

Detik.com. Ade Mulyana alias Moel adalah Pelukis Pelepah Pisang asal Cimahi Jawa Barat. Moel selalu menjadikan pelepah pisang sebagai bahan baku utama untuk lukisannya. Mencarinya pun tidak sembarangan. Tidak hanya di Cimahi, Moel mencari pelepah pisang ke berbagai daerah seperti Cianjur, Garut, Purwakarta atau Lembang.
Berdasarkan pengalaman Moel, entah karena unsur hara tanah yang berbeda, warna pelepah pisang di berbagai daerah pun berbeda-beda. Misalnya untuk daerah Cianjur pelepah pisangnya dominan dengan warna abu-abu, untuk Purwakarta warnanya kuning keemasan sedangkan untuk Garut warnanya putih. Moel membutuhkan warna-warna tersebut untuk lukisannya. Meskipun dia harus datang ke kebun-kebun milik orang lain yang ada di berbagai daerah.
Berita86.com. Jemy, seniman asal Kampung Rangge Kelurahan Sukomulyo Lamongan membuat lukisan limbah pelepah pisang tiga dimensi. Sehingga lukisannya terlihat unik dan bernilai seni tinggi. Hasil karyanya pun terlihat indah berwarna alami, terutama jika terkena pantulan sinar matahari.
Menurut Jemy, untuk membuat sebuah lukisan pelepah pisang terbilang agak rumit. Bahan dasar pelepah pisang yang didapatnya harus dalam keadaan busuk dan telah di rendam dengan tanah liat selama berbulan-bulan. Pelepah pisang yang busuk kemudian di potong hingga seperti serbuk, kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari. Serat pelepah pisang yang sudah tertimbun tanah ini tidak akan lapuk atau berjamur, sehingga dipastikan lukisan akan bertahan dalam tempo yang lama.
Untuk menghasilkan sebuah lukisan, Jemy membutuhkan waktu empat sampai lima bulan. Bahkan, jika hati sang pelukis tidak sedang dalam kondisi prima, penyelesaian sebuah lukisan berukuran 180 meter persegi, butuh waktu hingga satu tahun. Seni lukis yang digeluti 12 tahun silam, sebuah karya lukisannya dihargai mulai dari 5 Juta hingga Ratusan Juta Rupiah, tergantung ukuran lukisan dan tingkat kesulitannya.
liputan86. blogspot.com. Susono, pemuda kreatif warga Desa Kendal Kemlagi Kecamatan Karang Geneng, Lamongan, memanfaatkan pelepah pisang atau yang biasa disebut gedebog sebagai bahan lukisan. Hasilnya, lukisan pelepah pisang ini terkesan klasik dengan warna sephia d an coklat sebagai warna dominant. Pelepah pisang atau yang biasa disebut gedebog tak sulit di dapat. Susono me ndapatkan pelepah pisang untuk bahan lukisannya disekitar rumahnya.
Untuk mem buat lukisan dari pelepah pisang ini cukup mudah. Pelepah dengan tekstur tertentu dipilih sebagai back ground lukisan. Kemudian serat pelepah pisang digunakan untuk membuat gambar yang berupa garis-garis. Serat pelepah pisang tersebut ditempelkan dengan lem kayu pada back ground yang dipilih. Kemudian setelah bentuk selesai, lukisan tersebut baru dipernis agar lebih sempurna. Lukisan dengan ukuran 70 centime ter kali 40 centimeter misalnya, ia hanya menjualnya dengan harga 200 ribu rupiah.
Cara Membuat Lukisan Pelepah Pisang
Dalam tulisannya senipelepahpisang.blogspot.com, berbagi pengalaman cara-cara membuat sebuah lukisan pelepah pisang. Cara pembuatan lukisan, amatlah sederhana dan bahan/alat yang dibutuhkan yaitu; pelepah pisang yang telah kering di pohon, gunting, triplek, lem.
Pelepah Pisang. Jenis pisang bebas, pelepah pisang yang baik adalah yang sudah kering dipohon, kondisi pelepah pisang benar-benar kering (tidak basah atau lembab), pelepah tidak perlu dijemur di sinar matahari (cukup diangin-anginkan saja). Tidak perlu menggunakan bahan pengawet atau ditambah pewarna buatan, karena akan menghilangkan kesan alami lukisan. Corak warna pelepah pisang yang akan digunakan disesuaikan dengan kebutuhan pelukis, sesuai dengan gaya dan tema lukisan. Lukisan yang sudah jadi tidak perlu di vernis (bahan pengkilap lukisan). Supaya lebih indah bisa dipakai pigura dan kaca. Agar lukisan awet dan tahan lama, hindari lukisan dari basah/lembab.
Lem. Tidak ada jenis lem khusus untuk lukisan ini. Lem yang biasa digunakan contohnya ; lem kertas biasa (yang berbahan dasar tepung singkong/kanji/aci, Lem merek FOX yang biasa dijual dipasaran. Lem FOX lebih sering penulis gunakan, karena daya rekatnya yang cukup kuat, walaupun harganya agak sedikit lebih mahal.
Triplek. Biasanya digunakan untuk dasar lukisan. Selain triplek dapat juga digunakan bahan-bahan lain, seperti karton tebal, kayu, dll.
Cara Penempelan Pelepah Pisang, Teknik menempel bebas. Untuk melukis pemandangan, kaligrafi, hewan2, manusia, biasanya penulis menempel latar belakangnya dulu, baru yang terakhir detailnya. Seperti contoh Lukisan Kaligrafi, pertama tempellah latar belakang yang berwarna gelap semua, setelah kering baru tempel tulisan kaligrafinya yang berwarna terang. Agar hasil tempelan merata dan kuat, biasanya setelah pelepah pisang ditempel, lukisan diberi pemberat diatasnya hingga lem kering (seperti dengan kaca tebal, kayu pemberat, buku yang tebal, dll), tujuannya agar lem menempel merata disetiap bagian pelepah pisang yang ditempel.
Untuk tahap tahap pertama, memang dibutuh keuletan dan kesabaran ekstra, karena bahan dan alat ini tidak lazim digunakan untuk tujuan melukis. Tetapi bila telah mahir dan teknik melukisnya telah didapat sendiri, akan diperoleh sebuah lukisan yang unik dan agak sulit untuk ditiru orang, sehingga nilai jualnya juga lebih baik. Selamat mencoba!

Cara Membuat Lukisan dari Pelepah Pisang

Cara Membuat Lukisan dari Pelepah Pisang

Tips membuat lukisan dari Pelepah Pisang
Cara pembuatan lukisan, amatlah sederhana bahan dan alat yang dibutuhkan yaitu : pelepah pisang yang telah kering di pohon, gunting, triplek, lem.
Pelepah Pisang : jenis pisang bebas, pelepah pisang yang baik adalah yang sudah kering dipohon, kondisi pelepah pisang benar-benar kering (tidak basah atau lembab), pelepah tidak perlu dijemur di sinar matahari (cukup diangin-anginkan saja). Tidak perlu menggunakan bahan pengawet atau ditambah pewarna buatan, karena akan menghilangkan kesan alami lukisan. Corak warna pelepah pisang yang akan digunakan disesuaikan dengan kebutuhan pelukis, sesuai dengan gaya dan tema lukisan. Lukisan yang sudah jadi tidak perlu di vernis (bahan pengkilap lukisan). Supaya lebih indah bisa dipakai pigura dan kaca. Agar lukisan awet dan tahan lama, hindari lukisan dari basah/lembab.
Lem : Tidak ada jenis lem khusus untuk lukisan ini. Lem yang biasa digunakan contohnya ; lem kertas biasa yang berbahan dasar tepung singkong/kanji/aci, Lem merek FOX yang biasa dijual dipasaran. Lem FOX lebih sering penulis gunakan, karena daya rekatnya yang cukup kuat, walaupun harganya agak sedikit lebih mahal.
Triplek : Biasanya digunakan untuk dasar lukisan. Selain triplek dapat juga digunakan bahan-bahan lain, seperti karton tebal, kayu, dll
Cara Penempelan Pelepah Pisang : Teknik menempel bebas Untuk melukis pemandangan, kaligrafi, hewan, manusia, biasanya penulis menempel latar belakangnya dulu, baru yang terakhir detailnya. Seperti contoh Lukisan Kaligrafi, pertama tempellah latar belakang yang berwarna gelap semua, setelah kering baru tempel tulisan kaligrafinya yang berwarna terang. Agar hasil tempelan merata dan kuat, biasanya setelah pelepah pisang ditempel, lukisan diberi pemberat diatasnya hingga lem kering (seperti dengan kaca tebal, kayu pemberat, buku yang tebal dll) tujuannya agar lem menempel merata disetiap bagian pelepah pisang yang ditempel.
Teknik menempel dan kombinasi warna lukisan, biasanya akan berkembang lebih baik, bila dilatih secara terus menerus, sehingga suatu saat setiap pelukis akan menemukan cara dan tekniknya sendiri yang dianggap paling praktis dan paling pas bagi dirinya.
Untuk tahap tahap pertama, memang dibutuh keuletan dan kesabaran ekstra, karena bahan dan alat ini tidak lazim digunakan untuk tujuan melukis. Tetapi bila telah mahir dan teknik melukisnya telah didapat sendiri, akan diperoleh sebuah lukisan yang unik dan agak sulit untuk ditiru orang, sehingga nilai jualnya juga lebih baik.
Contoh lukisan pelepah pisang :
SELAMAT BERKARYA!!!!